Senin, 03 Desember 2012

Pendidikan: Pengertian, Hakekat, Azas-Azas, dan Landasan-Landasan


PENDIDIKAN
oleh : Iznoe 'Aqila

                     Pengertian Pendidikan
Kata pendidikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991: 232) berasal dari kata “didik” yang mendapat awalan me sehingga menjadi “mendidik”, yang artinya memelihara dan memberi latihan. Sedangkan yang dimaksud dengan pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Menurut Mcleod (1989) dalam Muhibbin Syah, M. Ed., kata pendidikan dalam bahasa Inggris education yang berasal dari kata educate (mendidik) artinya memberi peningkatan (to elicit, to give rise to) dan mengembangkan (to evolve, to develop). Dalam arti sempit, pendidikan berarti perbuatan atau proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan.
Dalam pengertian luas, Muhibbin Syah, M. Ed. (1995: 10) mengungkapkan bahwa pendidikan dapat diartikan sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.
UU No. 2 Tahun 1989 mendefinisikan pendidikan sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan pelatihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
Sedangkan dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan darinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Dalam GBHN pendidikan diartikan sebagai usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
Seorang pahlawan pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.
Hakekat Pendidikan
Sebelum membahas tentang hakekat pendidikan, kita gali dulu tentang konsep yang tepat tentang pendidikan tersebut. Menurut H.P. Fairchild (1964) dalam Prof. Dr. H. Nursid Sumaatmadja (2002: 40) mengemukakan : Education is the acculturation of newer and/for younger members of society by the older. The instituation-process whereby th  accumulated ideas, standars, knowledge, and techniques of society are transferred to, or omposed upon, the rising generation.
Sedangkan  D.J.O.  ‘Connor (1971)   dalam   Prof. Dr. H. Nursid    Sumaatmadja   (2002: 40)   juga mengungkapkan :
Education refers to :
*     a set of techniques for imparting knowledge, skills, and attitudes;

*    a set of theories wich purport to explain or justify the use of these techniques;

*    a set of values or ideas embnodied and expressed in purpose for wich knowledge, skills, and attitudes imparted and so dirtecting the amounts and type training that is given.
     Dari acuan-acuan di atas, terdapat kata-kata kunci yang mempertegas “apa” dan “bagaimana” pendidikan itu. Kata-kata tersebut diantaranya:
  a.     proses kegiatan-akulturasi  (pembudayan) – proses institusionalisasi (pelembagaan) – transfer (pengalihan) – imparting (memberikan, menggambarkan) – explain (menjelaskan) – justity (menjelaskan) – directing  (mengarahkan);
  b.     perilaku – pengetahuan – keterampilan – sikap – ideas (gagasan) – standars (pembakuan);
  c.     individu – member of society – generasi;
  d.     mengubah – training – transfer – techniques;
  e.     kematangan – kedewasaan – values (nilai) – ideas (gagasan);
  f.      the older (yang lebih tua) – pendidik – guru – orang tua – tokoh masyarakat.
Dari konsep di atas dapat disimpulkan bahwa mekanisme pendidikan meliputi proses, proses kegiatan,  kegiatan; perilaku yang dikembangkan (diubah) meliputi sikap, keterampilan, pengetahuan; subjek-objek pelaku meliputi individu, anggota masyarakat,  peserta didik, orang yang lebih tua; cara, teknik, metode yang diterapkan; pembakuan (standar) yang menjadi ukuran, yaitu nilai serta norma; dan akhirnya ada tujuan yang dicapai, yaitu kedewasaan, kematangan, perliaku yang diharapkan.

Untuk lebih menghayati hakekat pendidikan, dapat dilihat skema gambar Fundamental Ideas of Education oleh Prof. Dr. H. Nursid Sumaatmadja (2002: 42) :


Skema 2.1
Fundamental Ideas of Education


Dari skema diatas, dapat diuraikan bahwa gagasan pendidikan meliputi:
1) Manusia sebagai makhluk budaya, memiliki potensi dasar akal pikiran yang dikembangkan, dan dapat dikembangkan (dididik); 2) Sebagai makhluk budaya manusia memiliki sejumlah kebutuhan mental, yang meliputi kebutuhan-kebutuhan spiritual, sosial, emosional, pemahaman, dan keterampilan. Hal  ini semua dapat dipenuhi dengan pendidikan; 3) Aspek-aspek mental yang menjadi kebutuhan hidup manusia sebagai makhluk budaya, tercermin dan tampil pada perilakunya.; 4) Perilaku manusia sebagai makhluk budaya, dalam kehidupan bermasyarakat, berpijak pada pembakuan nilai dan norma yang berlaku; 5) Melalui proses belajar, manusia sebagi peserta didik menjadi manusia  yang manusiawi, manusia seutuhnya.
Dari gagasan-gagasan di atas dapat kita pahami bahwa hakekat pendidikan jika dilihat dari sudut pandang metodologis-filosofis pendidikan sebagai suatu sosok kajian, dapat ditelaah dari :
a.         Ontologi, berkenaan dengan “apa yang diketahui”, yaitu menyangkut manusia dengan perilakunya yang memenuhi kebutuhan mental spiritual pada lingkungan-lingkungan tertentu.
b.     Epistimologi, berkenaan dengan “bagaimana cara memperoleh pengetahuan tentang kegiatan dan proses pendidikan, serta teori-teori yang mendasari pengetahuan tentang pendidikan tersebut” – teori-teori pengetahuan mengenai bagaimana manusia (peserta didik) dengan perilakunya memenuhi kebutuhan mental dalam kehidupan;
c.     Aksiologi, mengenai “nilai-nilai apa yang dapat diungkapkan dari proses kegiatan pendidikan, dan pendidikan sebagai sosok kajian”. – nilai-nilai moral, etika, estetika, agama, budaya, dst.

       Asas-Asas Pendidikan
Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Khusus di Indonesia, terdapat beberapa asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu sendiri. Diantara asas tersebut adalah Asas Tut Wuri Handayani, Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan asas Kemandirian dalam belajar. (Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005)
a.        Asas Tut Wuri Handayani
Asas Tut Wuri Handayani yang kini menjadi semboyan Depdikbud adalah asas yang dikumandangkan oleh Bapak Pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara. Ada tiga semboyan dalam asas tersebut, diantaranya :
a.         Ing ngarsa sung tulada (jika di depan, menjadi contoh);
b.  Ing madya mangun karsa (jika di tengah-tengah, membangkitkan kehendak, hasrat, atau motivasi);
c.         Tut Wuri Handayani (jika di belakang, mengikuti dengan awas)
Ketiga semboyan tersebut di atas berasal dari tujuh asas Perguruan Nasional Taman Siswa yang didirikan pada tanggal 3 Juli 1992. Ketujuh asas tersebut merupakan asas perjuangan menghadapi kolonial Belanda serta sekaligus untuk mempertahankan hidup dan sifat nasional serta demokratis.
b.        Asas Belajar Sepanjang Hayat
Asas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education).  Kurikulum yang dapat meracang dan diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan horisontal.
a.     Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan.
b.      Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah.
Dalam Islam telah nyata dan jelas bahwa dalam al Qur’anul Karim dijelaskan tentang pendidikan sepanjang hayat, QS. Al ‘Alaq ayat 1-5 yang berbunyi:  Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (1), yang menciptakan manusia dari segumpal darah (2), bacalah dan dari Tuhanmulah apa yang datang (3) yang mengajarkan dengan petunjuk (4), yang mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahuinya (5).
Begitu juga Rasulullah Saw. bersabda yang diriwayatkan oleh  Abu Hurairoh: “Carilah ilmu mulai dari buaian ibu sampai ke liang lahad”.
c.         Asas Kemandirian dalam Belajar
Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalam peran utama sebagai fasilitator dan motivator. Sebagai fasilitator guru diharapkan menyediakan dan mengatur berbagai sumber belajar sedemikian rupa sehingga memudahkan peserta didik berinteraksi dengan sumber-sumber tersebut. Sedangkan sebagai motivator, guru mengupayakan timbulnya prakarsa peserta didik untuk memanfaatkan sumber belajar.
Terdapat beberapa strategi belajar-mengajar dan atau kegiatan belajar-mengajar yang dapat mengembangkan peluang kemandirian dalam belajar antara lain Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), Pembelajaran Aktif Kreatif Inovatif dan Menyenangkan (PAKEM), Contectual Teaching Learning (CTL), dll.

       Landasan-Landasan Pendidikan
Pendidikan sebagai proses kegiatan pemberdayaan manusia peserta-didik menjadi sumber daya manusia yang cocok untuk segala lingkungan dan perkembangan zaman, maka harus dilandasi dengan nilai-nilai yang sesuai dengan hakekat manusia selaku makhluk sosial budaya. Untuk itu, pendidikan harus dilandasi oleh nilai-nilai agama, filsafat, budaya, dan moral.
Pendidikan adalah sesuatu yang universal dan berlangsung terus menerus dari generasi ke generasi dimanapun di dunia ini. Upaya memanusiakan manusia melalui pendidikan diselenggarakan sesuai dengan pandangan hidup dan latar sosial-budaya setiap masyarakat tertentu.
a.        Landasan Agama
Agama merupakan wahyu yang diturunkan oleh Allah Yang Maha Kuasa kepada manusia untuk menjadi landasan hidupnya hingga akhir zaman. Melalui pendidikan sebagai proses pemberdayaan SDM yang berlandaskan agama, kita negara-bangsa Indonesia, dapat menikmati hidup dan kehidupan damai, sejahtera, adil dan makmur.
Oleh karena itu, agama sebagai landasan pendidikan telah diisyaratkan dalam pancasila sila ke satu Ketuhanan Yang Maha Esa, yang menjadikan landasan pendidikan yang mutlak karena sesuai dengan fitrah manusia.   
b.        Landasan Filsafat
Pendidikan sebagai suatu proses kegiatan pemberdayaan manusia menjadi SDM yang berkualitas harus dilandasi oleh sifat dan sikap yang arif dan bijaksana. Sifat dan sikap demikian selain terbina dari pengalaman dan pendidikan juga hasil perenungan tentang hal-hal yang baik dan buruk. Proses secara mendalam dan mendasar tadi dikatagorikan sebagai berfilsafat.
Filsafat sebagai suatu kajian yang mendasar tidak hanya mengungkapkan hal-hal terlihat kasat mata akan tetapi lebih mendalam yang tidak jarang di luar jangkauan pikiran kita. Dengan demikian, proses telaahan filsafat tentang kehidupan dan lingkungan sekitarnya, bukan hanya dengan kecerdasan emosional dan intelektual, akan tetapi juga mengembangkan kecerdasan spiritual.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan sebagai proses kegiatan pemberdayaan peserta didik menjadi SDM yang manusiawi, secara mendasar harus dilandasi oleh nilai-nilai filsafat yang meyakinkan (meliputi alam, kehidupan, moral, agama, dan ketuhanan), dengan demikian, landasan filsafat dan landasan agama sulit dipisahkan.
Secara filsafati, dalam mengembangkan pendidikan sebagai suatu proses pemberdayaan anak didik, harus berpijak pada fakta dan realita. Proses pelaksanaan pendidikan melalui pembelajaran, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan sense of interest, sense of curiosity, sense of reality, dan sense of discovery dalam mempelajari fakta untuk mencari kebenaran.
Selain apa yang diuraikan penulis di atas bahwa landasan filosofis bersumber dari pandangan-pandanagan dalam filsafat pendidikan, menyangkut keyakianan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik dijalankan.             
c.         Landasan Sosiologi
Landasan sosiologi pendidikan adalah acuan atau asumsi dalam penerapan pendidikan yang bertolak dari interaksi antar individu sebagai mahluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu (pendidik dan peserta didik) bahkan dua generasi yang memungkinkan generasi muda mengembangkan diri.
Landasan sosiologi pendidikan di Indonesia menganut paham integralistik yang bersumber dari norma kehidupan bermasyarakat: (1) kekeluargaan dan gotong royong, kebersamaan, musyawarah untuk mufakat, (2) kesejahteraan bersama menjadi tujuan hidup bermasyarakat, (3) negara melindungi warga negaranya, (4) selaras serasi dan seimbang antara hak dan kewajiban.
d.    Landasan Budaya
Pendidikan selalu terkait dengan manusia, sedangkan manusia selalu menjadi anggota masyarakat dan pendukung kebudayaan tertentu. Dalam UU-RI No. 2 Tahun 1989 Pasal 1 Ayat 2 ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan Sistem Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik sebab kebudayaan dapat dilestarikan atau dikembangkan dengan jalan mewariskan kebudayaan tersebut dari generasi ke genaerasi.
Cara-cara untuk mewariskan kebudayaan tersebut khususnya mengajarkan tingkah laku kepada generasi baru yang berbeda dari masyarakat ke masyarakat dengan melalui tiga cara umum yaitu: (1) informal, terjadi dalam keluarga,  (2) non formal, terjadi dalam masyarakat yang berkelanjutan dan berlangsung dalam kehidupan sehari-hari, dan  (3) formal, melibatkan lembaga khusus yang dibentuk untuk tujuan pendidikan.
Pada masyarakat yang sudah maju, sekolah sebagai lembaga sosial yang mempunyai peranan yang sangat penting sebab pendidikan tidak hanya berfungsi untuk mentransmisikan kebudayaan kepada generasi penerus tetapi juga berfungsi untuk mentransformasikan kebudayaan agar sesuai dengan perkembangan dan tujuan zaman.
Pendidikan dapat dikonsepkan juga sebagai proses budaya manusia. Kegiatannya dapat berwujud sebagai upaya yang dipikirkan, dirasakan, dan dikehendaki manusia. Pada hakikatnya manusia sebagai makhluk budaya dapat menyesuaikan diri dengan kebudayaan setempat. Salah satu cara untuk memelihara kebudayaan adalah melalui pengajaran. Jadi pendidikan dapat berfungsi juga sebagai penyampai, pelestari, dan pengembang kebudayaan.
e.    Landasan Psikologis
Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologis merupakan salah satu landasan yang penting dalam bidang pendidikan, karena membahas tentang hakekat manusia, proses belajar, dan peranan guru.
Perbedaan individual terjadi adanya perbedaan aspek kejiwaan antar peserta didik, bukan hanya yang berkaitan dengan kecerdasan dan bakat akan tetapi juga perbedaan pengalaman dan tingkat perkembangan, perbedaan aspirasi dan cita-cita, bahkan perbedaan kepribadian secara keseluruhan. Salah satu yang menjadi sorotan yaitu perbedaan kepribadian peserta didik, karena kepribadian adalah sesuatu hal yang unik. Keunikan tersebut bukan hanya perbedaan potensial saja akan tetapi juga karena perbedaan perkembangannya karena pengaruh sekitar. Hal ini sejalan dengan salah satu tujuan pendidikan yaitu terbentuknya kepribadian yang mantap dan mandiri.
Manusia dilahirkan  dengan sejumlah kebutuhan yang harus dipenuhi dan potensi yang harus dikembangkan. Dalam upaya memenuhi kebutuhannya maka manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Interaksi dengan lingkungannya yang menyebabkan manusia mengembangkan kemampuannya dalam proses belajar. Semakin kuat motif upaya pemenuhan kebutuhan itu, semakin kuat pula proses belajar yang terjadi yang akhirnya semakin tinggi hasil belajar yang dicapainya. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam keberhasilan proses belajar, diantaranya: (1) stimulus belajar, (2) perhatian siswa, (3) keaktifan siswa, dan (4) penguatan umpan balik. 
f.    Landasan Ilmiah dan Teknologi
Pendidikan serta ilmu pendidikan dan teknologi mempunyai kaitan yang sangat erat, karena sejalan dengan perkembangan jaman dan iptek harus segera diakomodasikan oleh pendidikan yakni dengan memasukan hasil iptek ke dalam isi bahan ajar.
Dengan perkembangan iptek dan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks maka pendidikan dalam segala aspeknya mau tak mau harus mengakomodasikan perkembangan itu. Iptek merupakan salah satu hasil usaha manusia untuk mencapai hasil kehidupan yang lebih baik. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar